Belajar Dari Nilai Uang yang Makin Turun

Saya Ibu rumah tangga. Itu bener sekali. Tapi kenapa saya ngotot sekali berbisnis, terutama bisnis oriflame. Padahal, suami saya itu udah kerja dengan gaji ya lumayanlah untuk kami. Uang hasil gajinya cukup untuk makan, untuk beli ini dan beli itu. Yaaa…jika dibilang lumayanlah.

Tapi sebelum kita ngomongin gaji suami saya, yuuk kita ngomongin uang dulu. Dari dulu saya gak pernah mikirin yang namanya nilai uang. Tapi setelah berumah tangga, saya jadi mikir nilai uang. Biasalah, kalo jadi bendahara rumah tangga kan suka begitu. Tapi kali ini beda, saya mikir bukan jumlah uangnya tapi nilai uangnya. Gaji suami saya setiap tahun tetap naik, senang dunk, jumlahnya banyaaaak. Tapi kok ya jadi kepikiran.

Gaji suami naik, jatah bulanan juga naik, tapi kok biaya hidup makin naik juga. Naiknya tak kira-kira pula, gaji suami yang jumlahnya wooow, tapi tidak sebanding dengan kenaikan semua kebutuhan hidup, mulai dari listrik, air, kebutuhan dapur, alat elektronik, semuanya sepakat naik.

Gaji naik, ternyata yang lain ikut naik. Dari sini saya belajar, tepatnya belajar sejarah uang dan belajar hukum

ekonomi. Saya mulai membandingkan nilai uang dengan emas. Dulu saat saya baru menikah, emas itu untuk 2,5 gram sama dengan Rp400 ribu, lama-lama jadi Rp500 ribu, kemudian Rp800 ribu, pernah juga sampai ke Rp1,2 juta. Itu emasnya yang nilainya naik atau uang kita yang nilainya turun. Emas rasanya tidak pernah naik, tapi uanglah yang nilainya turun. Semuanya dipengaruhi oleh inflasi, pajak dan utang (utang negara kita tentunya).  Bukti emas tidak naik apa? Orang naik haji zaman dulu sama naik haji zaman sekarang, jika dibayar pakai emas, jumlah emasnya sama.

Anggap saja begini, 8 tahun lalu, saat gaji suami Rp2 juta, maka saya bisa beli emas 12,5 gram. Kemudian gaji suami naik menjadi Rp5 juta, saya hanya bisa beli emas 10 gram. Nah, lhooo…kok kurang ya? Padahal itu jelas gaji suami saya naiknya banyak banget. Dari Rp2 juta menjadi Rp5 juta. Wooow banget kan…tapi kok ya saya lebih jaya pada saat gaji suami Rp2 juta.

Itulah uang kita sekarang, nilainya selalu berkurang. Jika saya tabungpun, harusnya menabung itu lama-lama jadi bukit ya. Tapi tidak untuk saat ini, lama-lama nilainya berkurang. Makanya saya gak mau berlama-lama menabung di bank. Cukup untuk bisa membeli sesuatu saja, kemudian tariiiik. Kemudian terpikir juga begini, kalo nilai uangnya turun terus, kapan saya bisa punya rumah, punya mobil, punya tabungan haji.

Aturan main tentang nilai uang berubah, maka kita dalam memaknai uang juga harus berubah. Jangan tiap bulan ngomong ke suami, “tambah uang belanja doong, semuanya serba mahal’. Mau nambah dari mana coba? Gajinya emang udah segitu-gitunya. Kecuali dapat suami yang gajinya unlimited alias pengusaha sukses. hehehehehe….. Baiklah, aturan main berubah, kita juga harus berubah. Kita harus ikuti aturan main uang….

Jalan satu-satunya untuk mempertahankan nilai uang adalah berbelanja. Berbelanjalah sebanyak-banyaknya. Eits…tapi jangan berbelanja yang konsumtif. Berbelanjalah sebanyak-banyaknya untuk aset. Dalam pengertian akunting, aset itu adalah harta, segala jenis harta–aset lancar dan aset tetap. Ah, ribet kalo mikirin apa kata akunting. Kita ambil saja pengertiannya Roy Shakti.

Aset adalah yang memberi kita penghasilan, sesuatu yang membuat uang mengalir ke kantong kita. Lebih ciamik lagi kalau penghasilan yang diperoleh itu besarnya melebihi cicilannya. Misalnya niiih, saya kredit Avanza Rp4 juta, lantas disewakan Rp5 juta sebulan. Sisanya Rp1 juta bisa masuk kantong saya. Aset yang satunya lagi adalah, harta yang membuat kita mengeluarkan uang dari kantong kita, intinya jadi beban. Misalnya kita beli mobil dengan cara dicicil, tapi mobilnya tidak disewakan. Cicilannya dibayar dari kantong kita. huhuhuhu…. Rp4juta. Ini namanya Liabilitas. Jadi sebelum berbelanja untuk aset, harus dibedakan dulu aset dengan liabilitas. Aset memasukan uang ke kantong, Liabilitas mengeluarkan uang dari kantong. Jelas ya….

Apa saja aset itu?

  1. Ilmu pengetahuan. Investasi untuk ilmu pengetahuan itu balik modalnya nya bisa jadi jutaan persen. Makanya jika mau ikut MLM pilihlah yang ada ilmu internet markettingnya seperti d’BCN. Jika ada training offline sama orang yang sukses duluan, ikuti saja, dan curi ilmunya. Makanya saya berani terbang ke Jakarta, november lalu untuk ikut trainingnya d’BCN dengan biaya sendiri. Trainingnya jelas ada ilmunya.
  2. Properti. Saya gak bahas yang ini. Hitung-hitungannya bakalan panjang. hehehehe… tapi yang jelas, segera miliki rumah impian.
  3. Bisnis. Tentu saja bisnis yang menguntungkan, yang mengalirkan uang ke kantong kita.
  4. Komoditas.

Pertanyaannya suami saya itu aset apa liabulitas ya? Jelas saja suami saya aset, karena mengalirkan uang ke kantong saya. Hahahahah… untuk itu saya harus jaga dengan baik. Bagaimana caranya? Ya saya kudu terlihat cantik, jasmani dan rohani, setiap waktu. Cantik secara jasmani ya saya pakai produk oriflame. Cantik secara rohani saya harus jadi isteri soleha. Sekarang, muncul lagi pertanyaan lainnya, saya itu aset atau liabilitas¬† bagi suami saya ya? Tergantung…jika saya menguntungkan, jelas saya aset. Tapi kalau hanya mampu menghabiskan uang untuk belanja oriflame, jelas saya liabilitas. Hehehehehe…cinta sih cinta, tapi jika merugikan kayaknya bakalan berkurang cintanya. hahahahahaha (mudah2an suami saya gak baca yang ini).

Makanya untuk mengikuti aturan main uang, aset yang harus dibelanjakan itu adalah ilmu dan berbisnis. Saya jalani bisnis oriflame dengan benar, supaya cantiknya saya menghasilkan uang juga. Bisnis oriflame itu aset, ilmunya d’BCN itu aset tak ternilai untuk saya. Kudu dijalani serius dan ikuti aturan mainnya. Supaya mengalirkan uang ke kantong saya. Bisnis idealnya tidak boleh hanya satu, harus lebih dari satu. Karena jika bisnis yang satu ini kurang menghasilkan, ada penunjang di bisnis yang lain. Jadilah bisnis saya macam-macam.

Baiklah, sekarang yang ibu rumah tangga udah tau aturan main uang ya. Nilainya akan selalu berkurang selama inflasi di negara kita tak menentu. Jadi kalo memegang uang suami, jangan lupa belanjakan sebagian uangnya untuk aset dalam bentuk berbisnis. Jangan belanjakan seluruhnya untuk kebutuhan konsumtif. Jangan pula ditabung terus, karena nilai uang akan berkurang. Tapi putarlah uang tadi untuk bisnis. Dimana? Ya di oriflame. Ibu rumah tangga saya yakin hanya mampu berbisnis modal kecill. Tidak akan sanggup menjalani bisnis modal besar dengan resiko yang besar pula. Nanti suaminya marah.. Jadi hilang aset terbesarnya hehehehe